Agama mungkin adalah topik yang rentan akan perdebatan dan bahkan tak jarang memicu perkelahian.
Apakah begitu seharusnya agama diperlakukan?
Apakah dengan penderitaan atau bahkan kematian manusia lain sebuah agama dibenarkan?
Gw di sini bicara soal agama mungkin dipikiran kalian gw ‘sok tau’ atau ‘sok kritis’ atau ‘nggak pantes’ bicara soal agama karena gw bukan ustadzah, bukan hajjah, bukan suster atau biarawati atau pemuka agama lainnya yang dianggap paling kenal dengan Tuhan dari segala umat.
Gw juga bukan orang religius yang berdoa atau shalat rutin. Menyentuh sajadah dan mukena aja bisa dihitung dengan jari dalam seumur hidup gw.
Gw dibesarkan oleh keluarga penganut agama Islam yang bisa dibilang cukup fanatik namun hanya dalam ucapan, tidak dalam perbuatan (dalam hal ini shalat, ngaji, atau puasa). Tapi apa gw merasa malu? Nggak tuh. Keluarga gw yang jauh dari sempurna ini mengajarkan gw apa arti sesungguhnya dari keluarga dan apa arti sebenarnya dari cinta kasih untuk anggota keluarga.
Gw pun melaksanakan wajib belajar 12 tahun gw di sekolah Katolik di Jakarta dan gw merasa senang belajar di sana karena gw merasa diterima apa adanya tanpa diskriminasi terhadap agama gw.
Gw tidak hanya diberi pengetahuan mengenai dunia tetapi bagaimana menerima dunia apa adanya dan mencoba untuk mencintainya sebagai bagian dari hidup gw.
Tapi ketika gw membuka mata untuk melihat apa yang ada di dunia untuk gw belajar, gw malah hancur, sedih, dan kecewa luar biasa. Karena dunia tidak seindah dan seromantis yang dibayangkan. Melihat perceraian orang tua ada di mana-mana, kemiskinan, peperangan antar-negara, pertikaian antar umat beda agama, dan lain-lain. Gw mencoba untuk menerima perceraian sebagai bagian dari filosofi “jodoh”: kalau ngga jodoh ya mau gimana lagi, even when you’re tied in marriage. Gw berhasil keluar dari itu.
Pengalaman yang bikin tidak nyaman pernah gw alami ketika berjumpa dengan beberapa teman baru dan mereka bertanya kenapa gw tidak shalat sebagai seorang Muslim? Dan mereka pun mulai mengejek gw kalau gw Islam KTP and so on. Tapi apa dengan dihina begitu bikin gw jadi mau shalat? Jawabannya nggak. Gw malah merasa semakin jauh dari kemungkinan itu. Kenapa? Karena gw melihat orang-orang yang shalat itu mengejek orang lain dan merasa dirinya lebih benar dan suci. Karena gw melihat orang-orang yang mengaku beriman dan bertakwa itu tidak peduli dengan keadaan orang lain. Karena gw melihat orang-orang yang mengaku Islam itu menganiaya dan membunuh sesamanya karena beda keyakinan.
Apa karena seorang beragama Katolik sedang duduk minum alkohol di bar maka dia lebih buruk dari seorang muslim yang tidak pernah ketinggalan shalat lima waktu tapi tidak pernah mau menafkahi anak-anaknya?
Ketika seorang perempuan menjajakan harga dirinya demi pengobatan ibunya apakah berarti dia lebih buruk dari seorang biarawati yang selalu membicarakan keburukan orang dan selalu dengki dan iri hati?
Gw tidak mengecap agama Islam itu baik atau buruk, begitu juga dengan agama lain. Gw pun tidak berpaling untuk memeluk agama lain dan meyakininya karena hal-hal buruk itu tidak dilakukan oleh umat beragama Islam aja. Gw tidak menyalahkan kenapa agama harus ada macem-macem atau kenapa yang namanya agama harus ada kalau hanya untuk membuat orang-orang di dunia bertikai. Gw percaya agama-agama itu diciptakan atau tercipta dengan tujuan yang baik yaitu harmonisasi umat manusia.
Sampai saat ini pun, tahun 2011 ketika gw menulis blog ini, gw masih sering mendengar bagaimana seseorang didiskriminasi karena ras atau agamanya. Seorang ibu berjilbab dengan hasil / prestasi kerja yang luar biasa tidak dinaikkan jabatannya hanya karena dia berjilbab. Iya, masih ada kasus seperti itu. Amazing ya?
Gw tidak mengerti bagaimana orang bisa menilai atau menghakimi orang lain hanya karena keyakinan hidupnya berbeda yang sesungguhnya sama sekali tidak merugikan keberadaan atau mengusik kenyamanan orang lain.
Dari agama-agama yang gw tahu dan sempat gw pelajari, semua itu ngga ada. Interpretasi dan keegoisan manusia yang bikin itu ada. Semua agama yang gw lihat mengajarkan orang untuk sayang dengan orang-orang yang ada di kanan kirinya. Untuk selalu bantu mereka kalo kesusahan terlepas dari apa keyakinan mereka. Yang beda hanya cara lo menjalankan ibadahnya.
Jadi kalo lo tanya agama gw apa, from now on gw akan jawab kalau agama gw adalah “kasih sayang”.